Mahasiswi Kesurupan Saat Audiensi Pansus TRAP DPRD Bali, Menguatkan Seruan Menjaga Bali dari Kerusakan Tata Ruang

DENPASAR – Suasana audiensi antara Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali) dengan Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali di Wantilan DPRD Bali, Rabu (3/6/2026), berlangsung tidak seperti biasanya. Pertemuan yang dihadiri ratusan tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, aktivis lingkungan, hingga pemuka agama itu diwarnai peristiwa yang mengundang perhatian seluruh peserta.
Di tengah jalannya audiensi, seorang mahasiswi Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS) mendadak mengalami kesurupan. Kejadian tersebut membuat suasana forum sejenak terhenti. Sejumlah peserta kemudian memberikan pertolongan dan pendampingan hingga kondisi mahasiswi tersebut kembali tenang.
Peristiwa itu langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan peserta. Dalam perspektif spiritual masyarakat Bali, tidak sedikit yang mengaitkan kejadian tersebut sebagai bentuk pengingat agar perjuangan menjaga Bali dilakukan dengan kesungguhan. Bahkan muncul keyakinan bahwa “Sesuunan Ida Bhatara Turun Kabeh” turut mengawal gerakan penyelamatan Pulau Dewata dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan, tata ruang, dan degradasi budaya.
Audiensi tersebut digelar sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap langkah Pansus TRAP DPRD Bali yang saat ini tengah melakukan pendalaman terhadap berbagai persoalan tata ruang, aset daerah, dan perizinan yang berkembang di Bali. Berbagai isu strategis menjadi perhatian, mulai dari alih fungsi lahan produktif, pembangunan yang diduga tidak sesuai tata ruang, hingga persoalan investasi yang dinilai berpotensi mengancam keberlanjutan lingkungan dan budaya Bali.
Ketua dan anggota Pansus TRAP menerima langsung aspirasi yang disampaikan FOR HATI Bali. Dalam forum tersebut, masyarakat meminta agar seluruh dugaan pelanggaran tata ruang dan perizinan di Bali diusut secara objektif, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat Bali.
Dukungan terhadap langkah Pansus TRAP juga disampaikan tokoh agama Hindu, Ida Shri Bhagawan Yogananda. Menurutnya, Bali saat ini sedang menghadapi tantangan besar yang tidak hanya menyangkut persoalan pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut masa depan budaya, adat, dan spiritualitas Bali.
Ia menilai semakin masifnya alih fungsi lahan, tekanan investasi yang tidak terkendali, serta berbagai pembangunan yang mengabaikan keseimbangan alam dapat mengancam identitas Bali sebagai pulau yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal.
“Bali sedang menghadapi pilihan besar. Apakah kita membangkitkan Bali dan menjaga warisan leluhur, atau membiarkannya mengalami kerusakan secara perlahan,” ungkapnya.
Menurut Bhagawan Yogananda, perjuangan yang dilakukan Pansus TRAP harus dipandang sebagai gerakan moral untuk menyelamatkan Bali. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat agar tidak tinggal diam terhadap berbagai persoalan yang berpotensi merusak alam, kawasan suci, dan tatanan kehidupan masyarakat Bali.
Fenomena kesurupan yang terjadi saat audiensi bahkan oleh sebagian peserta dimaknai sebagai simbol peringatan bagi pihak-pihak yang selama ini mengabaikan keseimbangan alam Bali. Tidak sedikit yang menilai kejadian tersebut sebagai pengingat agar para investor maupun pelaku pembangunan mematuhi aturan tata ruang serta menghormati nilai-nilai budaya dan spiritual yang hidup di tengah masyarakat Bali.
Semangat menjaga Bali yang mengemuka dalam audiensi FOR HATI Bali dan Pansus TRAP tersebut sejalan dengan pesan yang pernah disampaikan Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam kegiatan Paiketan Krama Bali bertajuk “Bali Mau Dibawa Kemana” yang berlangsung di Kampus IPB Internasional, Jalan Kecak Nomor 12A, Sidakarya, Denpasar Selatan, pada Jumat, 10 Januari 2025.
Dalam kesempatan itu, Koster mengingatkan masyarakat Bali tentang amanat leluhur yang tertuang dalam Lontar Bhisama Batur Kalawasan. Ia menegaskan bahwa menjaga gunung, laut, dan alam Bali bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan juga kewajiban spiritual yang menentukan masa depan generasi Bali.
“Ingatlah pesanku, wahai anak-anakku sekalian, di kemudian hari jagalah kelestarian gunung dan laut. Gunung adalah sumber kesucian, laut tempat menghilangkan kekotoran, di tengah daratan melaksanakan kehidupan. Kalau melanggar, akan terkena kutukan, kekurangan pangan, umur pendek, dan kerusakan hubungan sosial,” ujar Koster saat itu.
Koster menjelaskan bahwa pesan dalam lontar tersebut menjadi dasar filosofi pembangunan Bali melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Konsep tersebut menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas melalui enam pilar Sad Kerthi, yakni Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi.
Karena itu, berbagai upaya pengawasan terhadap tata ruang, aset daerah, dan perizinan yang saat ini dilakukan Pansus TRAP DPRD Bali dinilai memiliki relevansi kuat dengan semangat menjaga kesucian dan kelestarian Bali sebagaimana diwariskan leluhur.
Audiensi FOR HATI Bali bersama Pansus TRAP DPRD Bali akhirnya tidak hanya menjadi ruang penyampaian aspirasi publik, tetapi juga menjadi simbol kuat menguatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga Pulau Dewata. Di tengah dinamika pembangunan dan derasnya arus investasi, pesan yang muncul dalam forum tersebut tetap sama, yakni bahwa Bali harus dibangun dengan menghormati alam, budaya, hukum, dan nilai-nilai spiritual yang menjadi jati diri pulau ini sejak dahulu kala.




