
NTT, Matakompas.com- Harapan besar publik Belu untuk melihat Laskar Manuaman Lakaan menjejak semifinal ETMC 2025 kembali kandas.
Di laga 8 besar yang berlangsung panas di Stadion Marilonga, Persab Belu harus mengakui keunggulan PSN Ngada dengan skor tipis 1–0.
Kekalahan ini terasa semakin pahit karena sejarah panjang kedua tim menyimpan luka yang belum sembuh bagi Belu.
Publik masih mengingat dua pertemuan penting yang selalu disebut sebagai “malam kelam Persab”: kekalahan 2–1 pada final ETMC 2007 di Belu sebagai tuan rumah, meski saat itu diperkuat skuad mewah seperti Yus Tei, Castelo Blanco, Jhony Martins, Jose Geraldo, Lafi Fahik, Aje, hingga Moses Erens Hane serta kekalahan telak 0–4 pada semifinal ETMC 2017 di Ende.
Dua momen itu membekas kuat, dan duel 2025 menjadi ajang pembuktian serta balas dendam.
Namun kenyataan kembali tidak berpihak. PSN Ngada tampil sangat disiplin sejak menit awal. Serangan cepat, tekanan agresif, dan penguasaan bola yang rapi membuat Persab kesulitan mengembangkan permainan.
Trio lini tengah Persab, Pican Wuwur, Deni Seran, dan Asten seakan terkurung tanpa ruang untuk distribusi bola.
Pada menit ke-36, malapetaka datang. Aldo Lalu memanfaatkan kelengahan pertahanan Persab dan melepaskan sepakan yang tak mampu dibendung kiper.
Skor berubah 1–0 untuk PSN Ngada, sekaligus menjadi gol yang menentukan nasib Persab Belu di laga ini.
Babak kedua berlangsung penuh perjuangan. Laskar Manuaman Lakaan mencoba menekan, mengalirkan bola lebih cepat, dan mengirim umpan-umpan terobosan ke kotak penalti.
Namun, tembok pertahanan Ngada berdiri terlalu kokoh untuk ditembus.
Peluit panjang berbunyi, dan Persab kembali harus menelan pahitnya kekalahan dari musuh lamanya.
Ini menjadi kekalahan ketiga Persab Belu di fase gugur melawan PSN Ngada, sebuah catatan yang semakin mempertebal rivalitas dan cerita kelam bagi publik Belu.
Skor akhir: PSN Ngada 1- 0 Persab Belu. Ngada melaju ke semifinal, sementara Persab kembali pulang dengan kegagalan yang menyisakan banyak penyesalan.*** Eky Luan
