Ragam

Puasa Wajib Umat Islam Sebelum Shiyam Ramadhan

Puasa Asyura atau puasa pada tanggal 10 Muharram memiliki sejarah yang panjang. Puasa ini sudah dipraktikkan umat Yahudi, jauh sebelum datangnya Islam.

Mereka berpuasa pada Hari Raya Yom Kippur tanggal 10 bulan Tishri atau 10 Muharram karena pada hari itu Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh-musuhnya.

Sebagai rasa syukur, Nabi Musa alaihisallam berpuasa pada hari itu, atau 10 Muharram. Setelah kejadian itu, jadilah puasa Asyura menjadi ‘syariat’ bagi umat Yahudi.

Dalam perkembangannya, puasa Asyura tidak hanya diamalkan umat Yahudi namun juga kaum Quraisy pada masa Jahiliyah. Bahkan hingga setelah masa-masa awal kelahiran Islam.

Menariknya, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan umat Islam juga menjalankan puasa Asyura.

Sebelum turunnya perintah puasa Ramadhan, Nabi Muhammad dan umat Islam menjalankan puasa Asyura dan puasa pada tiap-tiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Qamariyah.

Sebagaimana riwayat Ahmad, Nabi Muhammad melaksanakan puasa Asyura mungkin untuk menyertai kaum Quraisy yang juga berpuasa pada hari itu karena mengikuti syariat umat terdahulu. Atau Nabi Muhammad berpuasa Asyura karena mendapatkan izin dari Allah.

 

Mengingat puasa juga merupakan amal kebajikan, sama seperti ibadah haji.

Nabi Muhammad dan umat Islam terus menjalankan puasa Asyura. Hingga suatu ketika, beliau tiba di Madinah dan mendapati umat Yahudi merayakan hari ke-10 Tishri atau 10 Muharram; mereka berpuasa Asyura, mengenakan pakaian yang indah, serta berbelanja makanan dan minuman.

Mendapati hal seperti itu, Nabi Muhammad kemudian bertanya kepada umat Yahudi mengapa mereka berpuasa pada hari itu.

“Ini adalah hari yang baik bagi kami. Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israel dari gempuran musuh-musuh mereka. Karena itu, sebagai ungkapan rasa syukur, Musa As berpuasa pada hari ini,” kata mereka.

“Kalau begitu, kita (umat Islam) sangat patut mengikuti jejak Musa As,” kata Nabi merespons jawaban Yahudi tersebut.

Nabi Muhammad kemudian memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari itu; siapa yang sudah makan, maka bisa berpuasa pada sisa hari itu dan siapa yang belum hendaklah berpuasa –jangan makan.

Agar tidak menyamai syariat umat Yahudi tersebut, Nabi Muhammad juga memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 9 (hari Tasu’a) dan atau 11 Muharram sesuai hadits riwayat Ahmad.

“Puasalah kalian pada hari Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Kerjakan puasa dari satu hari sebelumnya sampai satu hari sesudahnya,” kata Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam dalam hadits riwayat Ahmad.

Perintah tersebut disampaikan Nabi Muhammad pada awal tahun kedua beliau tinggal di Madinah –Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabiu’ul Awwal. Beberapa bulan setelahnya (tujuh bulan setelahnya, atau 18 bulan setelah tinggal di Madinah), Nabi Muhammad menerima wahyu tentang perintah puasa Ramadhan.

Dengan demikian, puasa Asyura dilaksanakan sebagai puasa wajib hanya satu kali saja. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Setelah turunnya ayat ini dan puasa Ramadhan telah diwajibkan, maka Nabi Muhammad tidak lagi mewajibkan puasa Asyura bagi umat Islam. Mereka boleh berpuasa Asyura dan tidak berpuasa juga boleh.***

  Banner Iklan Rafting Jarrak Travel

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button