
BADUNG, Matakompas.com | Kodam IX/Udayana menggelar Apel Kesiapsiagaan Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (PRCPB) di Lapangan Kipan A Yonif 900/SBW, Tuban, Kuta, Badung, Jumat, 29 Agustus 2025.
Hal tersebut dilakukan, dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Turut hadir, Pejabat Utama Kodam IX/Udayana, Kapolda Bali, Kajati Bali, Kabinda Bali, Danrem 163/Wira Satya, serta Danlanal Denpasar dan Danlanud I Gusti Ngurah Rai.
Hadir pula, Kalaksa BPBD, Kepala BMKG Wilayah III Denpasar, Kepala Kantor Basarnas Denpasar, Kadis Sosial, Kadis Kesehatan, Kadis PUPRKIM Provinsi Bali, serta Kadis Damkar dan Penyelamatan Kota Denpasar, bersama para undangan lainnya.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) II, Marsdya TNI M. Khairil Lubis memimpin langsung apel ini bertujuan mengecek kesiapan personel, materiel, serta alutsista TNI bersama stakeholder terkait, di antaranya Polri, Pemerintah Daerah, BPBD, Basarnas, BMKG, dan instansi sipil lainnya.
Sebanyak 745 personel dilibatkan dalam Apel, terdiri dari Gabungan Satuan TNI AD, AL, AU, Polri, dan Pemda, dengan kekuatan utama Yonif 900/SBW, Yonif 741/GN, Denkav 4/SP, serta Yonzipur 18/YKR.
Tidak hanya itu, unit pendukung seperti tim medis, trauma healing, komunikasi, logistik, hingga pengoperasian drone juga turut disiagakan.
Dalam amanatnya, Marsdya TNI M. Khairil Lubis menegaskan bahwa apel ini merupakan wujud nyata komitmen Kodam IX/Udayana bersama stakeholder dalam menghadapi ancaman bencana.
 Ia menyebut Batalyon Komposit PRCPB memiliki peran penting sebagai garda terdepan yang siap digerakkan kapan pun dan di mana pun dibutuhkan dengan reaksi cepat, tanggap darurat, serta sinergi lintas instansi.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Provinsi Bali dan Nusa Tenggara merupakan bagian dari wilayah tugas Kogabwilhan II yang memiliki kerawanan bencana cukup tinggi, meliputi gempa bumi, tsunami, gunung meletus, tanah longsor, banjir bandang, hingga kebakaran hutan dan lahan.
 Selain itu, ancaman non-alam seperti isu sosial kemasyarakatan dan penanganan sampah juga membutuhkan perhatian serius serta langkah strategis yang terukur.
“Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan sendiri. Kita harus mengedepankan sinergi yang kuat antara TNI, Polri, BPBD, Basarnas, BMKG, BNPB, Pemerintah Daerah, serta para relawan. Komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi yang efektif adalah kunci keberhasilan,” tegasnya.
Marsdya TNI M. Khairil Lubis juga mengingatkan agar setiap personel memahami tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, sehingga mampu bergerak cepat, tepat, dan terukur saat bencana terjadi.
Kehadiran negara, ujarnya, harus benar-benar dirasakan masyarakat di tengah kesulitan.
Mengakhiri amanatnya, Pangkogabwilhan II mengajak seluruh pihak menjadikan moto “Siaga Sebelum Bencana, Cepat Saat Darurat, Tulus Dalam Pengabdian” sebagai semangat bersama dalam memberikan jaminan keselamatan dan perlindungan bagi masyarakat.
Gelar Pasukan ini juga menampilkan beragam alutsista penanggulangan bencana, mulai dari ambulance lapangan, water treatment, kendaraan tangki air dan BBM, perahu karet, rescue truck, excavator, hingga alat pemadam kebakaran.
 Perlengkapan khusus seperti alat selam, perlengkapan rescue, drone, serta stasiun cuaca otomatis BMKG juga dipamerkan guna memastikan kesiapan menghadapi berbagai skenario kontinjensi bencana.
Kegiatan apel kesiapsiagaan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pengecekan personel dan peralatan semata, tetapi juga momentum memperkuat komitmen, solidaritas, dan kesiapan semua unsur dalam menghadapi bencana.
Dibawah komando Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto selaku Panglima Komando Kewilayahan Bali-Nusra, kesiapsiagaan yang terencana dan sinergi yang solid diharapkan mampu menghadirkan rasa aman serta perlindungan bagi masyarakat Bali dan Nusa Tenggara dari setiap ancaman bencana yang mungkin terjadi. (red/tim).